Loading...
HikmahRefleksi

Hikmah Isra’ Mi’raj

Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha. Al-Quran melukiskan bahwa perjalanan itu diliputi keberkahan (al-Qur’an, surah al-Isra’: 1). Di kemudian hari, peristiwa ini dikenang oleh ummat Islam sebagai peristiwa Isra’ Mi’raj yang diperingati setiap tanggal 27 Rajab, sebuah peristiwa penting yang menandai sebuah syariat baru yang tetap kita pegang teguh, yaitu shalat, sekaligus merangsang para ilmuwan Muslim untuk menjelaskan peristiwa ini dengan narasi sains. Dalam hal ini, iman dan ilmu seakan berlomba untuk menemukan kebesaran Allah melalui peristiwa Isra’ Mi’raj ini.

Al-Quran, surah al-Isra’: 1

“Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha, yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”.

Bagi kita, ummat Islam, peristiwa Isra’ Mi’raj ini penting untuk dihikmahi sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita sebagai hamba Allah. Pertama, melalui peristiwa ini Allah memberikan perintah secara langsung untuk mendirikan shalat, sebuah medium yang dikehendaki-Nya untuk ditegakkan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman. Melalui shalat, Allah menghendaki sebuah hubungan yang intensif dan otentik dengan hamba-hamba-Nya, lima kali dalam sehari.

Kedua, peristiwa Isra’ Mi’raj juga tonggak bagi pembekalan dakwah yang tangguh. Sebelum peristiwa Isra’ Mi’raj, orang-orang yang dicintai oleh Nabi dan mendukung misi dakwahnya sepenuh hati akhirnya meninggal dunia: Abu Thalib (pamannya) dan Khadijah (istrinya). Sementara itu, di sisi lain, penindasan kaum Quraisy terhadap Nabi semakin dahsyat. Menghadapi ujian tersebut, Nabi menjalaninya dengan kesabaran yang otentik sebagai hamba Allah. Oleh karenanya, ayat di atas menyebut Nabi Muhammad dengan kata ‘abdun (hamba), sehingga Allah memberinya derajat yang tinggi melalui peristiwa Isra’ Mi’raj.

BACA JUGA:   Surah Al-Nisa' (4): 2

Ketiga, pasca-peristiwa Isra’ Mi’raj, Nabi menunjukkan keberanian untuk menyampaikan kebenaran meskipun bertentangan dengan nalar sosial yang berlaku pada saat itu. Pada pagi hari setelah peristiwa Isra’ Mi’raj itu, Nabi mengabarkan peristiwa itu kepada penduduk Makkah. Tentu, hal ini menimbulkan cemoohan dari masyarakat, karena kabar itu dianggap tidak masuk akal pada saat itu. Bahkan, salah satu penentang utama Nabi di Kota Makkah, Abu Jahal, membuat skenario untuk mengumpulkan orang-orang Makkah untuk mencaci-maki Nabi Muhammad sebagai agenda untuk meruntuhkan reputasi beliau sebagai al-Amin (orang yang sangat dipercaya). Meskipun demikian, Nabi tetap teguh menarasikan kebenaran peristiwa itu. Melihat kesungguhan Nabi yang seperti itu, para sahabat beliau pun tidak goyah keimanannya. Mereka yang sudah menjadi Muslim tetap teguh beriman dalam Islam.

Keempat, peristiwa Isra’ Mi’raj menghubungkan 2 simbol keagamaan: Masjid al-Haram (tempat sujud Ibrahim) dan Masjid al-Aqsha (tempat sujud Sulaiman, The Solomon Temple). Tentu, hal ini mengisyaratkan bahwa Nabi Muhammad yang diperjalankan melintasi 2 simbol keagamaan itu merupakan penerus risalah kenabian dari nabi-nabi sebelumnya. Perjalanan itu bahkan melintasi ruang dan waktu, dimana Nabi Muhammad dipertemukan dengan nabi-nabi terdahulu yang pernah hidup ratusan dan ribuan tahun sebelumnya. Momentum pertemuan itu digunakan untuk sujud bersama kepada Allah dengan dipimpin oleh Nabi Muhammad, sebelum beliau bertolak ke Sidrah al-Muntaha. Tuhan yang disembah Ibrahim merupakan Tuhan yang juga disembah oleh Musa, Isa (Yesus), dan Muhammad. Semuanya menyembah kepada Tuhan Yang Ahad. Hal ini mengisyaratkan agar kita membuka dialog untuk menemukan titik temu di antara agama-agama Ibrahimi.

قُلْ يَـٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَـٰبِ تَعَالَوْا۟ إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَآءٍۭ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا ٱللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِۦ شَيْـًٔا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِّن دُونِ ٱللَّهِ ۚ فَإِن تَوَلَّوْا۟ فَقُولُوا۟ ٱشْهَدُوا۟ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

BACA JUGA:   Hikmah Ramadlan - 2

Katakanlah, “Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka, “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)” (al-Quran, surah Ali Imran [3]: 64)

Keempat, ketika ummat Islam semakin terdidik dengan ilmu pengetahuan modern, peristiwa Isra’ Mi’raj menjadi salah satu obsesi banyak orang untuk menjelaskannya dengan narasi sains. Ayat-ayat kauniyah (berupa alam semesta dan berbagai peristiwa di dalamnya, termasuk Isra’ Mi’raj) diharapkan menjadi pendorong pertumbuhan sains di kalangan ummat Islam untuk memahami tanda-tanda kebesaran Allah. Meskipun demikian, ada banyak hipotesis yang telah dihasilkan untuk menjelaskan peristiwa Isra’ Mi’raj dari sudut pandang sains modern. Mengapa ada banyak hipotesis untuk menjelaskan satu peristiwa? Hal ini menunjukkan bahwa sains modern sekalipun terlalu kecil untuk menjelaskan ayat-ayat Allah yang sedemikian luas, termasuk peristiwa Isra’ Mi’raj. Allah Maha Kuasa atas segala dimensi, Dia Maha Berkehendak atas segala sesuatu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *